Tampilkan postingan dengan label Sepeda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepeda. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2016

DIARY 5 : ESENSI KEHIDUPAN

Tulisan ini adalah artikel ke 5 yang saya tulis dalam blog Diary Sepeda GoBlog. Masih untuk memperbanyak artikel dalam blog utama saya ini, maka artikel  tersebut saya postingkan ulang di sini masih dengan harapan semoga bermanfaat.

Dari       : www.diarysepedagoblog.blogspot.co.id
Judul     : Diary 5 : Esensi Kehidupan
Posting  : Kamis, 13 September 2012


Akhirnya  setelah beberapa kali hari minggu saya melakukan aktifitas bersepeda, saya mulai bisa menikmati aktifitas luar ruang yang satu ini, bisa dikatakan inilah hobby baru saya. Meski pun keringat bercucuran, namun badan terasa segar dan bugar tiap kali sehabis bersepeda sehingganya kegiatan  ini tidak saja saya lakukan hanya pada hari Minggu, namun juga sesekali pada hari-hari lainnya. 

Hingga pada suatu hari minggu yang permai di pertengahan bulan May 2012,  saat hendak mulai bersepeda, keduaroda sepeda menunjukkan gejala kekurangan tekanan udara membuat saya harus menuntunnya terlebih dahulu mencari bengkel terdekat. Namun karena pagi masih cukup dini bengkel terdekat langganan saya belum beraktifitas, jadi lah saya tuntun terus sepeda kesayangan untuk mencari bengkel yang sudah buka. Untungnya tidak seberapa jauh saya temukan juga sebuah bengkel motor kecil yang sudah memulai kegiatannya cukup awal, dan dengan gembira saya pun memasuki bengkel tersebut.

Saya disambut oleh anak muda yang tampak sangat bersemangat membersikan halaman bengkelnya.

"Mau perbaiki apanya Om?" tanya si anak muda dengan nada yang sopan.
"Cuma minta tolong dipompakan saja dik" jawab saya sambil menyodorkan sepeda.
"Beres om" jawabnya pula

Tidak memelukan waktu lama untuk mengisikan udara ke dalam dua ban roda-roda, dan setelah membayar ongkos yang ditagih, saya ucapkan terimakasih untuk segera berlalu, Namun si anak muda ini rupanya masih senang berbasa-basi  dengan saya.

"Mau bersepeda kemana nih Om?", tanyanya.

"Biasa nih, mau jalan-jalan sampai pantai Kedonganan".

"Trus teman-temannya mana om?" tanyanya lagi.

"Waduh dek, saya kalo bersepeda biasa sendiri, soalnya kalo rame-rame saya bisa malu kalo nanti kecapaian dan harus minta berhenti" jawab saya sekenanya.

Ya, saya memang menjawab sekenanya saja untuk pertanyaan terakhir tadi, karena terusterang, sesungguhnya saya  benar-benar tidak memiliki jawaban yang tepat  untuk pertanyaan tersebut. Bagi saya saat itu, pertanyaan tersebut ibarat tinju pamungkas  Mike Tyson yang meng-KO lawan-lawannya di ronde-ronde awal sebuah pertandingan,  benar-benar menohok ke ulu hati dan menghujam ke dalam benak saya. Mungkin kedengarannya itu seperti sebuah pertanyaan yang sederhana dan biasa saja, namun jika direnungkan  dengan seksama, sesungguhnya pertanyaan itu merengkuh  jauh ke esensi terdalam kemanusiaan yakni : bahwa seorang anak manusia tidak dapat melepaskan diri dari perannya sebagai mahluk sosial.

Foto 1: Ilustrasi, bersepeda sendiri


Ya,  sebagai mahluk sosial maka manusia akan selalu mebutuhkan manusia lainnya untuk berinteraksi, dan jangan-jangan di mata pemuda di bengkel tadi saya ini sejenis mahluk manusia yang berjiwa asosial.

Sambil bersepeda, saya masih terus memikirkan apa yang ditanyakan  si anak muda tadi, dari situ saya baru menyadari bahwa selama ini saya selalu bersepeda seorang diri. Kebetulan setiap hari minggu pagi  jalan By Pass Nusa Dua sepertinya menjadi salah satu jalur favorit bagi para penghoby bersepeda, dan pemandangan yang selalu saya lihat adalah kelompok orang bersepeda  mulai dari rombongan-rombongan kecil (2 – 3 orang) hingga ke rombongan yang cukup besar (4 sampai 10 orang ), kalau pun ada yang bersepeda sendiri seperti saya, hanyalah satu dua saja.

Apakah saya ini tidak memiliki teman? Meski sudah hampir dua setengah tahun tinggal dan bekerja di Bali, namun rutinitas yang saya jalani sehari-hari adalah rutinitas seputar berangkat dari rumah ke tempat kerja - sebuah proyek pembangunan hotel bintang lima di daerah Canggu. Berangkat pukul setengah delapan pagi, baru pulang paling cepat pukul enam atau setengah tujuh dari tempat kerja.  Dan dengan hari kerja Senin hingga Sabtu,  praktis saya hanya memiliki sedikit waktu terluang untuk kegiatan lain serta untuk bersosialisasi. Hari Minggu biasanya saya luangkan untuk berjalan-jalan bersama istri dan anak-anak beserta seorang kawan karib keluarga kami.

Ini tentu amat berbeda ketika saya masih bujang dan bekerja di Jakarta dulu. Saya amat banyak memiliki kegiatan selain bekerja. Saya memiliki kawan-kawan dari kegiatan Paduan Suara; saya masih rajin berkumpul dengan kawan-kawan dari masa Sekolah Dasar, SMP, SMA dan Kuliah; sesekali saya masih mengkontak dan bertemu dengan kawan-kawan dari tempat bekerja sebelumnya di sebuah radio swasta niaga. Untuk kegiatan bermusik, saya aktif berkumpul dan bersosialisasi pada sebuah kommunitas Jass.  Dengan tetangga seputaran rumah pun saya selalu menyempatkan diri dalam berbagai kegiatan. Belum lagi terhitung teman-teman yang secara aktif berhubungan melalui jalur dunia maya. Wah kalo boleh membanggakan diri, saya ini bisa dibilang adalah pribadi yang cukup gaul dan bersosialisasi lah.

Dalam situasi seperti ini, ada rasa amat rindu dengan sahabat-sahabat saya saat masih di Jakarta dulu.

Tak terasa, memikirkan dan menganalisa pertanyaan si penjaga bengkel tadi, saya telah menggowes jauh melebihi target saya ke Pantai Kedonganan, ya sudahlah pikir saya, sepeda pun saya arahkan sekalian ke Pantai Kuta, di sana lebih ramai dan barangkali saja saya bisa dapat teman untuk diajak bersepeda bersama-sama (endingnya mudah ditebak, saya tetap saja bersepeda sendirian).

Selepas area Kuta, saat hendak kembali menuju rumah, telepon di saku tas berdering,

“Pak lagi di mana?” suara istri saya di seberang telepon.

“Masih di Kuta nih mah, sudah mau pulang”.

“Kalo gitu aku jemput di pertigaan pasar Kuta ya Pak, ini kebetulan si Agam (salah seorang sahabat kami ketika di Jakarta dulu) sedang ada di Bali, nginep di daerah Kuta, aku mau jemput ke penginapannya”.


Aaaahhh... betapa senangnya ada seorang sahabat yang datang dari Jakarta dan menyempatkan diri untuk bertemu.


Note : Foto 1: Free photo, sumber www.stocksnap.io


Senin, 17 Oktober 2016

MENGAYUH RODA KEHIDUPAN

Ini Tulisan ke empat dalam blog Diary Sepeda GoBlog yang pernah saya tulis, tujuannya selain untuk mempublikasikan tulisan yang pernah saya tulis, pastinya supaya blog manjidharsana ini jadi tambah postingan heheheheh ... (ngejar target nih satu postingan tiap minggu).

Dari        : Diary Sepeda GoBlog 
Diary 4   : RODA KEHIDUPAN
Posting  : Kamis, 6 September 2012 


Mungkin dua bulan telah berlalu sejak kejadian “Minggu kelabu” yang meruntuhkan kepercayaan diri dalam hati, selama dua bulan itu hasrat untuk menggowes sepeda  sepertinya hilang ditelan asa yang membeku, dan selama masa itu pula sang sepeda terbiarkan saja berdiri merana di sudut halaman, terpapar panas terik matahari serta dinginnya hujan. Hingga akhirnya pada suatu minggu pagi yang sejuk permai, kebetulan tak banyak yang harus saya kerjakan di rumah, tanpa sengaja mata ini tertumbuk pada si sepeda yang teronggok merana di sudut halaman. 

Kondisinya kali ini tampak amat menyedihkan, terlihat dekil; kumal; dan berdebu. Terlebih setelah mencermati lebih jauh,  tampak  lapisan karat menutupi beberapa bagian yang awalnya kinclong berkilau. Bagian roda gigi dan rantainya yang semestinya terbalur minyak pelumas, di sana tampak kering menggiris dan juga berselaput lapisan karat kemerahan. Terenyuh hati ini menyaksikan pemandangan yang memilukan itu. Hadiah ulang tahun dari istri tercinta – yang dulu saya terima dengan rasa haru dan gembira tak terperi – kini harus menanggung lara karena tak pernah lagi saya memperhatikannya atau pun menyentuhnya. Terlebih lagi saat memeriksa kedua rodanya, tak  sedikit pun udara yang tersisa mengisi ruang-ruang pada tabung ban dalamnya, sehingga kedua roda itu pun kempis tak bedaya.

Spontan, segera saya cari lap dan cairan pembersih karat merk WD 40 di lemari penyimpanan,  setelah dapat,  segera saja saya semprotkan ke seluruh badan sepeda sampai ke sudut-sudut yang terkecilnya . Velg dan roda-roda gigi serta rantai tentunya tak luput dari siraman sang cairan pembersih berulang-ulang, sembari semua bagian yang terkontaminasi karat saya gosok secara lembut dengan kain lap kering, saya berusaha sedapat mungkin agar semua karat laknat dan kerak debu dapat tersingkirkan, sehingga tanpa sadar satu kaleng besar cairan pembersih WD 40 tandas demi mengmbalikan kecemerlangan sepeda kesayangan ini.

Setelah puas membersihkan sepeda dan berhasil mengembalikan kilaunya  yang sempat pudar, segera saya menuntunnya keluar, kali ini tujuan saya adalah bengkel motor terdekat untuk memompa roda-roda yang kempis. Beruntung setelah saya periksakan di bengkel, tidak ada bannya yang bocor sehingga cukup dipompakan saja udara segar untuk mengisi tabung ban dalamnya yang telah kosong.  Tak butuh waktu lama, si sepeda sudah siap untuk dipergunakan kembali.

Aaahh.. perlahan tapi pasti semangat untuk menggowes kembali muncul dalam dada, meski ada sedikit ragu namun hasrat ini tak dapat tertahankan untuk kembali menungganginya. Kali ini saya menggenjot pedal-pedalnya secara perlahan, dan dengan lembut sepeda saya bawa menyusuri jalan beraspal yang rata. Tak ingin mengulangi kesalahan-kesalahan terdahulu berbagai variasi ratio roda gigi saya coba sambil menggenjot dengan mantab hingga akhirnya saya dapatkan rasio yang pas  bagi pemula seperti saya untuk bisa mengayuh  dengan nyaman. 

Tanpa terasa sudah hampir satu kilo meter jarak yang saya tempuh, cukup jauh dari bengkel motor  tempat awal saya mulai mengayuh tadi, namun karena waktu sudah hampir siang dan untuk tidak menjadi  takabur saya putuskan untuk berputar arah kembali pulang ke rumah.

Jalan menanjak menuju rumah akhirnya dengan sukses dan aman dapat saya lampaui, meski pun tiba di rumah dengan otot-otot paha yang sedikit gemetaran, namun tak ada masalah yang berarti, hanya perlu sedikit pelemasan, dengan satu keyakinan bahwa sedikit-demi sedikit kekuatannya akan semakin terlatih seiring jam terbang yang bertambah.

Satu minggu berselang, kembali di hari Minggu yang permai, saya kembali mencoba mengayuh sang sepeda dengan perasaan yang lebih pasti bahwa saya sanggup untuk menempuh jarak yang lebih jauh. Dan tak dinyana, walau masih mengayuh secara perlahan dan santai, pantai Kedonganan yang  jaraknya kurang lebih 5 kilometer dari rumah dapat saya capai dengan selamat dengan waktu tempuh hampir satu jam.   

Wah.. betapa senang dan bangganya hati ini,  meskipun bila dibandingkan dengan pesepeda yang telah berpengalaman kemampuan saya ini belum ada apa-apanya, namun tetap saja ini adalah pencapaian yang luar biasa buat saya. Dan kalau boleh berpikir bijaksana seperti filsuf-filsuf Yunani kuno, sepertinya saya telah menemukan arti  dari sebuah pencapaian kecil yang akan membawa kepada pencapaian-pencapaian yang lebih besar.  Ibarat roda kehidupan, dia akan berputar apabila ada manusia-manusia yang dengan ikhlas mengayuhnya.... Caileeeeeee.... 

Kamis, 22 Oktober 2015

MENSANA IN CORPORE SANO

Ini Tulisan ke tiga dalam blog Diary Sepeda GoBlog yang pernah saya tulis, masih dalam rangka untuk meramaikan dan coba mengaktifkan blog ini kembali, sebelum nanti saya publikasikan ulang.. jiaaaahhh..



Dari       : Diary Sepeda GoBlog 
Diary 3   : MENSANA IN CORPORE SANO 
Posting  : Kamis, 31 Mei 2012

Satu minggu setelah gowes pertama, saya masih berkeinginan untuk mencoba gowes lagi. Masih di hari Minggu yang permai, hari yang saya pilih untuk mencoba kemampuan saya bergowes ria. Kali ini saya menuntun sepeda dengan perasaan was-was, karena belum yakin dengan kemampuan otot-otot kaki.

Karena belum mahfum dengan kemampuan diri beradaptasi dengan sepeda baru ini, maka saya harus menerapkan strategi yang tepat untuk dapat setidaknya gowes hingga beberapa ratus meter. Akhirnya saya memilih untuk menggenjot saja sekuat-kuatnya, dengan harapan dapat mengetahui kemampuan otot maksimal.

Ancang-ancang dari depan halaman rumah, sepeda meluncur dengan mulus dan langsung saya arahkan ke luar komplek perumahan. Keluar dari perumahan, jalan masih menurun sehingga saya belum menemukan rintangan berarti. Setengah perjalanan menuju jalan raya jalan sedikit menanjak, dengan strategi yang sudah saya ancangkan sejak awal, sepeda saya genjot sekuat tenaga, dan meski nafas tersengal tanjakan pertama sukses saya lalui dilanjutkan dengan jalan menurun hingga mencapai jalan raya. Dari jalan raya saya arahkan kemudi memilih jalan yang menurun, sehingga saya pun masih aman menuju sebuah toko serba ada untuk membeli beberapa barang keperluan.

Selesai berbelanja, maka mau tidak mau jalan yang saya harus lalui adalah jalan yang menanjak, tidak curam namun di beberapa tempat juga tidak terlalu landai. Kembali strategi gowes sekuat tenaga saya terapkan, dan tanpa memikirkan perbandingan gear yang harus saya pilih, sepeda saya genjot secara membabi-buta laksana seorang tiran yang kejam memperbudak otot-otot untuk menuruti perintah-perintah tak berperikemanusiaan dari sang kepala. Jalan raya yang menanjak pun berhasil saya tempuh sampai berbelok ke jalan aspal kasar yang menuju ke arah rumah, tetap dengan semangat membabi buta, tanjakkan demi tanjakkan terus saya lahap tanpa jeda istirahat, dan dengan nafas yang terus memburu saya memaksakan diri untuk tetap bertahan di atas sadel sepeda. Untungnya kali ini tidak ada anjing milik tetangga yang menghadang perjalanan menuju rumah. 

Menjelang sampai rumah, jalan menanjak terasa lebih terjal namun tetap saya memaksakan untuk terus menggenjot, sampai akhirnya tibalah saya di rumah. Dan tanpa ampun saya pun tergeletak, terkulai lemas di lantai teras dengan nafas tersengal-sengal, tubuh dari kaki hingga pundak gemetar, perut mual terasa hendak muntah, kepala pusing, dan mata berkunang-kunang. Tubuh ini sepertinya bersekongkol melaksanakan pemboikotan dan melakukan pemberontakan terhadap kediktatoran saya, dan sebagaimana takdir yang biasanya mengakhiri masa pemerintahan seorang diktator, saya pun tumbang menghadapi pemboikotan dan perlawanan tersebut.

Hari minggu kali ini terasa begitu kelabu, hari ini saya tak sanggup mengajak anak istri untuk sekadar berjalan-jalan menikmati hari. Saya memilih untuk merebahkan diri seharian penuh di tempat tidur. Dan akhirnya hari ini berakhir di pembaringan sambil menerima pijitan di sekujur badan dari Bi Lastri tukang pijat langganan istri saya. Dan seperti yang sudah-sudah, Bi Lastri selalu berceloteh yang itu-itu saja. Sambil terpaksa mendengar celotehan si bibi tukang pijat, terngiang saya akan petatah petitih jargon penyemangat olahraga yang dulu biasa didengungkan pemerintahan orde baru: "Mensana In Corpore Sano - Dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat".... Haduuuuuuhhh...