Selasa, 13 Mei 2014

PADA MULANYA

Prakata:

Seperti yang pernah saya sampaikan, sesungguhnya saya tidak berhenti sama sekali dalam menulis blog. Ada blog lain yang saya buat, yakni blog mengenai pengalaman saya dalam menggeluti hobby bersepeda. Blog tersebut saya beri nama 'Diary Sepeda GoBlog' yang beralamat di laman http://www.diarysepedagoblog.blogspot.com/. Namun seiring menyurutnya aktivitas saya bersepeda, maka menyurut pula kegiatan saya menulis untuk blog tersebut.

Nah kini, dengan perasaan malu dan dengan segala kerendahan hati,  saya memberanikan diri untuk meng'copy-paste tulisan-tulisan di blog tersebut, dengan harapan agar dapat dibaca juga oleh pengunjung di blog ini, dan yang pasti sih supaya blog ini terlihat aktif serta banyak postingannya gitu. Selamat membaca.


DIARY SEPEDA GOBLOG
Diary 1 : Pada Mulanya
Post: Senin, 7 May 2012


Diary ini bermula pada tanggal 4 Januari 2012, persisnya bertepatan dengan tanggal ulang tahun saya, saat istri tercinta meminta saya menemuinya di sebuah toko Sepeda di seputar area Kuta. Mulanya sih saya bingung kenapa istri meminta untuk bertemu di tempat yang tidak lazim ini. Hehehehe… ternyata dia ingin memberi saya kado ulang tahun berupa sebuah sepeda, dan saya diminta memilih sendiri model sepeda yang saya inginkan.   

Beragam sepeda tersedia di toko tersebut, semuanya apik; semuanya keren, tentu membuat bingung untuk memilihnya, namun dalam hati saya memutuskan bahwa pertimbangan masalah harga adalah factor utama untuk saya memilih. Karena meski pun namanya hadiah atau kado, namun kalo yang memberikan adalah istri, tentunya harga yang dibayar menjadi tanggungan berdua. Akhirnya untuk mempersingkat waktu, saya menghampiri sang penjaga toko sambil bilang :”Pak, saya mau cari sepeda model MTB yang harganya paling murah”.

Si penjaga langsung menunjuk ke satu model sepeda sambil bilang : “Yang ini harganya Satujutatigaratuslimapuluhribu rupiah”.

“Masih boleh ditawar gak pak?” Tanya saya lagi.

“Ada discount 5%”.

“Jadi jatohnya berapa?”.

Setelah dia utak atik kalkulator, “Satujutaduaratuslimabelasribu Rupiah Pak”.

“Genapin jadi satujutaduaratusribu aja ya”.

“Tanya koko-nya aja pak”.

Langsung saya cari si Koko pemilik toko, sambil setengah berteriak: “Ko.. sepeda yang itu boleh satujutaseratus ya, langsung saya bayar kes ..”.

Si koko rada bingung, lalu dia Tanya sama si penjaga : “Emang harganya berapa”

“Satujutatigaratuslimapuluh, discount 5%”.

“Ya udah buat bapak ambil deh satujutaduaratus, langsung kita anterin ke rumah”.

Lantaran tidak piawai menawar, dan rasa-rasanya harga yang ditawarkan sudah cocok, ya sudahlah tawar-menawar itu selesai dengan kesepakatan harga terakhir yang disebut oleh si kokoh.


Dengan harga segitu, saya mendapatkan satu unit sepeda dengan spesifikasi sebagai berikut :
           Model                     : Mountain Bike
           Merk                       : Le Run, March 300 by POLYGON
           Tipe                        : Semi Off Road
           Suspensi                 : Depan saja
           Warna                     : Abu-abu metalik
           Gear Ratio              : 21 speed.
           Gear Belakang       : Shimano 7 Gear
           Gear Depan            : Shimano 3 gear
           Gear Switcher        : Model putar
           Rem                        : Depan Belakang, kanvas karet jepit.
     Velg                        : Alumunium

Tentu saja saya tidak bisa berharap untuk mendapatkan sepeda yang terkeren dan  super canggih dengan rangka logam super ringan, tetapi paling tidak dengan spesifikasi seperti di atas, saya rasa cukuplah untuk sekedar berolahraga dan bergowes. Di lain waktu dan kalau ada sedikit kelebihan dana, toh saya masih bisa mengganti bagian per bagiannya dengan yang lebih keren.  

Terakhir, tidak lupa ucapan terimakasih untuk istri tercinta yang sudah memberikan kado ulang tahun yang istimewa ini.

Yuuuukkk gowes yuuuukk......


Kamis, 01 Mei 2014

WE WANT MORE..!


“We Want More..! We Want More..! We Want More..!”,  yel-yel ini tentunya sudah sering kita dengar pada acara-acara pertunjukkan musik, di mana penonton meneriakkan yel-yel tersebut untuk meminta artis idola mereka kembali ke atas pentas guna memberikan satu-dua tambahan lagu di akhir pertunjukan.  Dulu saya pun mengira bahwa yel-yel itu adalah khas ulah penonton pertunjukkan panggung musik saja.



Belakangan, dari keterangan pembawa acara di salah satu acara kuis televisi, baru saya mengetahui ternyata yel-yel tersebut awalnya diteriakan pada sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran para buruh pekerja di Amerika, yang dengan jargon “We want more” tersebut menuntut haknya untuk mendapatkan upah kerja yang lebih banyak, serta jam kerja yang lebih sedikit. Demikian terkenalnya yel-yel itu sehingga diadopsi oleh para penonton pertunjukkan musik seperti yang saya bahas di atas. Tanggal 1 May, tanggal  saat dilaksanakannya aksi unjuk rasa tersebut hingga kini dirayakan sebagai Hari Buruh/Pekerja se Dunia (World Labor Day), atau yang lebih dikenal sebagai May Day.


Setiap tahun, di banyak negara bahkan juga di Indonesia, Hari Pekerja selalu diperingati sebagai hari libur nasional. Dan seperti di banyak negara lain, peringatan Hari Pekerja lebih banyak dirayakan dengan turunnya ribuan pekerja ke jalan-jalan raya untuk menyampaikan aspirasi mereka, dengan mengangkat issue yang beragam tergantung situasi.


Dan kalo saya, melalui akun-akun jejaring sosial saya, ikut-ikutan  “meneriakkan” yel-yel ‘We want more’  itu lebih karena saya masih melihat bahwa yel-yel tersebut masih sangat relevan dengan situasi kondisi para pekerja di Indonesia saat ini. Kita tentu tidak perlu menjadi ahli sosial ekonomi atau pun ahli kemasyarakatan untuk dapat menilai kondisi ketenagakerjaan kita. Kesejahteraan buruh dan pekerja dapat dikatakan masih sangat tertinggal dibandingkan dengan buruh dan tenaga kerja di luar negeri. Upah Minimum Regional (UMR) yang besarannya ditetapkan berbeda di masing-masing propinsi di Indonesia, saya nilai masih amat jauh mencukupi untuk mencapai kata sejahtera. Jangan kata untuk menabung atau pun berinvestasi, upah yang diterima pekerja sesuai besaran UMR baru dapat memenuhi kebutuhan dasar kalau tidak dapat disebut sebagai ’pas-pasan’.



Untuk bersaing di industri di Global, semestinya kita tidak lagi dapat mengandalkan rendahnya upah pekerja sebagai keunggulan komparatif.  Upah pekerja jangan lah dianggap sebagai beban dalam komponen industri dan perdagangan. Masih banyak komponen biaya lain yang dapat dikurangi guna memotong biaya investasi industri di Indonesia. Salah satu yang sering dikeluhkan oleh pemodal-pemodal lokal maupun asing adalah tingginya biaya administrasi birokrasi di Indonesia serta tingginya biaya “siluman” di Indonesia. Kalau saja hal ini bisa dikurangi, maka biaya-biaya yang selama ini tersedot untuk hal tersebut tentunya dapat dialihkan untuk menaikkan upah pekerja.


Banyak lagi yang bisa dilakukan untuk memangkas ongkos investasi, sebagai contoh, misalnya pemerintah memberikan insentif pajak dan keringanan bea-bea untuk perusahaan-perusahaan yang bersedia membayar upah pekerja di atas UMR yang berlaku. Saya percaya dengan demikian akan banyak perusahaan yang bersedia membayar upah yang tinggi bagi para pekerjanya. Di sisi lain pemerintah tidak perlu khawatir akan mengalami penurunan pendapatan, karena apabila pekerja dapat menerima upah di atas rata-rata UMR, maka para pekerja tersebut bisa dimasukkan ke dalam golongan pekerja yang layak menjadi wajib pajak, sehingga dari sisi ini pun negara tetap akan mendapatkan pemasukkan.


Sesungguhnya masih banyak komponen industri lain yang dapat diefisienkan untuk menekan biaya industri dan investasi di negara kita ini. Transportasi; kawasan industri; pelabuhan dan birokrasi hanyalah beberapa poin yang dapat saya sebutkan.


Namun bicara soal peningkatan kesejahteraan pekerja tidak melulu masalah menaikkan upah atau pun UMR, karena kenaikan UMR lebih sering disusul dengan kenaikan harga barang-barang yang melebihi value dari kenaikkan UMR itu sendiri. Sehingga meski mendapat upah yang meningkat, namun daya beli pekerja sesungguhnya menurun. Tentunya hal ini adalah ‘Pekerjaan Rumah’ bagi pemerintah agar selalu dapat menstabilkan angka inflasi berada pada angka yang tetap rendah.


Di atas semua itu, ada hal yang  jauh lebih penting dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja, yakni peningkatan kemampuan dan kapabilitas pekerja itu sendiri. Persaingan di dunia kerja, baik lokal maupun global sedemikian sengitnya, apabila pekerja kita hanya mampu memberikan prestasi kerja yang stagnan tentunya kita akan mudah tergusur dan bukannya tidak mungkin malahan akan membuat para investor mengalihkan industrinya ke negara lain yang tenaga kerjanya lebih kompetitif secara prestasi. Untuk itu butuh kesadaran para kita para kerja untuk selalu mengedepankan prestasi kerja dibalik aspirasi akan kenaikkan upah dan peningkatan kesejahteraan sosial.


Akhir kata, saya menyampaikan selamat Hari Pekerja se Dunia, kepada seluruh rekan Pekerja Indonesia, selamat menyampaikan aspirasinya, semoga berjalan dengan tertib; aman-terkendali dan damai. WE WANT MORE...!



Kuta, 1 May  2014

Jumat, 06 Desember 2013

MENGAPA SAYA TIDAK MENULIS

Bagi pengunjung yang kebetulan tersesat masuk ke blog ini, dan kebetulan sudi membaca postingan saya kali ini, sudilah kiranya untuk melihat pada dua postingan terakhir saya, setidak untuk membaca judul dan tanggal postingan saya tersebut. Benar, rentang waktu antara 2 tulisan tersebut dipostkan dengan tulisan saya kali ini sudah lebih dari 4 tahun alias saya sudah tidak lagi mempostkan satu pun tulisan di blog saya ini.


Kenapa saya tidak menulis?, Saya bisa memberikan seribu jawaban untuk pertanyaan ini: Tidak ada waktu; Sibuk dengan pekerjaan; Sibuk mengurus anak; Waktu Kerja hingga lewat malam; tidak ada ide; writer block; dan mungkin alasan yang paling mutakhir yang bisa saya jawab adalah saya sungguh tidak puas dengan ide-ide yang saya tulis pada dua postingan terakhir sebelum ini. Daftar ini masih dapat saya perpanjang lagi, namun sepanjang apa pun daftar yang saya buat semuanya memiliki satu benang merah yang merangkai seluruhnya yakni MALAS. 

Untuk meyakinkan benang merah tersebut, saya coba telusuri satu persatu alasan saya kenapa tidak menulis. 

Tidak ada waktu; Sibuk dengan pekerjaan; Kerja hingga larut malam, alasan ini memang ampuh untuk saya yang pemalas ini. Memangnya menulis meminta waktu berapa jam sih perharinya?.., Bung AS-Laksana (Sastrawan; Penulis buku Creative Writing) dalam beberapa kesempatan selalu menyarankan untuk menulis saja cukup 5 menit perharinya, dalam waktu itu kita bisa mendapat satu sampai dua lembar halaman tulisan, setelah itu tulisan bisa disimpan dan dilanjutkan esok harinya. Mencuri waktu 5 menit dalam 24 jam keseharian kita tentu tidak lah sulit. Itu sama mudahnya dengan mencuri waktu kerja kita selama 5 menit untuk merokok atau menggosip, dan kalau kita dapat menggosip dan merokok selama 5 menit tentunya kita harus dapat menulis dalam kurun waktu tersebut. Kalau dalam kurun waktu 5 menit kita tidak juga dapat menuangkan suatu tulisan maka yang harus dikaji ulang mungkin adalah kecakapan kita dalam menulis, dan untuk ini maka kurun waktu 5 menit itu pergunakanlah untuk melatih kecakapan menulis. Namun nasihat yang paling masuk akal dan mudah ini ternyata tidak juga mampu untuk meruntuhkan kemalasan saya, bahkan saya menemukan jawaban lain untuk mendukung kemalasan saya ini : "menulis tidak boleh dipaksakan..." weleh jelas-jelas sebuah jawaban yang dicari-cari, memangnya siapa yang memaksa saya untuk menulis?? 

Alasan berikutnya yakni: Tidak ada ide dan 'writer block'. Alasan ini memiliki benang merah yang sama dengan alasan-alasan saya yang lain yakni MALAS. Sesungguhnya ide-ide berseliweran di hadapan kita, namun dalam benak orang yang pemalas seperti saya ide-ide itu hanya menjadi dengung-dengungan pengusik yang segera enyah dari isi kepala, kalaupun sempat diendapkan untuk dijadikan bahan tulisan, seringkali lalu terlewat dan menguap begitu saja karena saya malas mencatatkan ke dalam secarik kertas atau seberkas file komputer, Padahal kawan saya Agus M. Irkham, seorang aktifis literasi dan mentor dari kegiatan-kegiatan penulisan, selalu menyarankan untuk mengikat ide-ide dan pengalaman-pengalaman yang kita dapat dalam bentuk tulisan, entah di media kertas (hardware) atau pun dalam berkas komputer (software), nantinya ide-ide yang telah kita simpan itu tinggal kita "petik" untuk bahan-bahan tulisan kita. Namun lagi-lagi saya punya jawaban untuk menyangkal nasehat itu yakni saya biarkan ide-ide saya simpan dalam memori di tempurung kepala ini, dan akhirnya mudah ditebak segala ide yang ada tidak satu pun berbuah menjadi tulisan. 


Alasan berikut lagi dan ini yang saya anggap paling muktahir menyangkut dua tulisan terakhir sebelum tulisan ini, betapa nyinyirnya saya dalam dua tulisan tersebut, berani-beraninya melontarkan kritikan pada pelaku-pelaku politik Tanah Air serta pada penyelenggara Dana Bantuan Likuiditas Tunai (Dana BLT), padahal siapa sih saya ini? Sudah demikian hebatkah sehingga berani-beraninya membuat tulisan seperti itu. Kalau ada pembaca yang sudi membaca dua tulisan itu, sekalian saya minta tolong juga untuk membaca dan membandingkannya dengan tulisan-tulisan saya lainnya, pasti akan dapat merasakan perbedaannya. Saya merasa tulisan itu bukanlah pribadi saya, saya bukanlah seorang tukang kritik, bukan pula pengamat politik atau pun pakar ekonomi atau pakar-pakar lainnya, saya hanyalah orang biasa, saya ingin menulis pengalaman-pengalaman dan pikiran-pikiran yang sederhana saja tanpa tendensi untuk menggurui; mengkritik atau bahkan memaki. Tapi lantas kenapa saya berhenti menulis sesudah itu? Hadduuuhhh... Ge-Er banget deh gue..., Emangnya siapa yang baca tulisan saya ya..? kalau pun ada seberapa banyak sih? lagian kalo memang tidak mau bikin tulisan seperti itu ya tulis yang lain dong, jangan cari-cari alasan lah... Hehehehe.. Emang gampang ya untuk mencari-cari alasan.., tapi sekali lagi, kalo dicermati memang yang selalu mengganjal saya untuk menulis adalah rasa Malas dalam berbagai manifestasinya. Dan untuk saya yang pemalas ini, mungkin yang harus dipertanyakan lebih jauh lagi apakah memang niat untuk menjadi seorang penulis? Kalo memang tidak niat cari saja kegiatan lain yang mungkin bisa dilakukan. 

Sebenarnya sih saya tidak berhenti total dalam menulis, selain blog ini saya juga membuat beberapa tulisan pengalaman saya dalam beraktifitas menggenjot sepeda, tapi ya itulah.. dasarnya saya ini pemalas.. blog yang berjudul Diary Sepeda GoBlog milik saya itu juga sudah setahun terbengkalai, dan kalo sempat berkunjung ke blog itu.. hehehehe... isinya cuma ada 6 postingan.. weleh..weleh..weleh.. 

Ya sudah, kalo gitu saya berjanji akan mulai menulis lagi di blog ini, semoga tidak nyinyir; tidak sok tahu; tidak sok pinter; tidak sok pamer; dan yang penting tidak berusaha membuat atau meniru gaya dan cara menulis orang lain, sebagus apa pun tulisan mereka itu, jujur saja menulis dengan gaya dan teknik penulisan yang saya kuasai sambil terus menerus memperbaiki teknik maupun gaya ungkap yang sudah dimiliki. Mohon juga kepada para pengunjung blog ini sudilah kiranya memberikan kripik pedas; caci maki; maupun timpukkan di kepala saya untuk tiap tulisan yang saya buat atau seandainya nanti saya tidak memposting tulisan dalam waktu yang cukup lama. 


Bagi yang bersedia mampir, saya ucapkan banyak sekali terimakasih... 

Catatan : Foto-foto saya ambil dari situs stock foto gratisan : FOTOLIA, heheheh... sekarang saya tidak memaksakan diri lagi untuk menampilkan foto-foto atau ilustrasi pribadi, sementara supaya tetep fokus ke penulisannya saja.


Senin, 18 Mei 2009

BLT, KENAPA MESTI ANTRI ?

Antrian yang semula tertib, mulai bergerak jadi saling berdesakan, kemudian saling dorong, dan akhirnya saling serobot, saling tabrak, injak, hingga jeritan, bahkan tangisan tak lagi dapat dielakkan. Tubuh-tubuh yang sebagian besar renta itu tak kuat tuk bersaing menahan desakan massa yang merangsek tanpa nalar disulut oleh rasa lelah, dahaga, panas dan mungkin juga lapar. Dibumbui panasnya sengat matahari siang, beberapa bertumbangan hingga harus mengurungkan niat semula untuk mendapatkan dana BLT (Bantuan Likuiditas Tunai) yang dibagikan pemerintah. Suasana kacau, petugas tampak kewalahan tuk mengatur.

Itulah sekelumit gambaran yang sempat saya pirsa dari tayangan televisi, perihal kacaunya pembagian BLT di suatu daerah. Memang tidak di semua daerah terjadi kekacauan semacam itu, namun kalu dipukul rata pembagian BLT ini menghadirkan pemandangan yang hampir sama serupa yakni warga masyarakat, yang memenuhi kriteria sebagai penerima BLT, harus rela berdesak-desakkan dalam alur antrian yang cukup panjang.

“Bebek Saja Antri”, demikian pemeo yang pasti sering kita dengar yang tentunya dimaksudkan untuk membudayakan kebiasaan antri dengan tertib dan teratur. Membeli minyak tanah bersubsidi harus tertib mengantri; membeli beras murah; sembako murah, membayar rekening listrik; karcis tol pun kita diminta antri dengan rapih.

Mungkin karena sudah terbiasa untuk membiasakan masyarakat supaya antri itulah, maka pemerintah kita sepertinya sudah kehilangan selera untuk memberikan pelayanan yang lebih manusiawi. Atau mungkin juga yang tertanam dalam benak pemerintah kita adalah pemikiran bahwa kalau untuk membayar sesuatu saja masyarakat kita rela antri, apalagi untuk menerima duit, ya harus antri lah.

Kalau benar demikian, tentu amatlah disayangkan. Di tengah gembar-gembor soal peningkatan produktifitas dan efektifitas kerja, ditengah gencarnya anjuran untuk melakukan penghematan, kita semua pasti setuju bahwa antri model BLT ini bukanlah suatu hal yang sesuai dengan gembar-gembor macam di atas, “jauh panggang dari api”.

Memang benar bahwa dana BLT yang dibagikan nilainya cukup besar bagi masyarakat penerimanya. Tapi apakah itu sepadan dengan waktu dan tenaga serta pengorbanan lain yang dikeluarkan? Belum lagi apabila diperhitungkan dengan segala resiko cedera; terdorong; terinjak dan teraniaya. Sungguh merupakan suatu penghambur-hamburan energi dan produktifitas yang luar biasa besarnya, tidak hanya bagi si penerima, namun juga bagi para birokrat di strata terbawah (petugas) yang terlibat langsung dalam acara pelaksanaan pembagian BLT.

Kalau dicermati lebih jauh, sudah banyak pihak –terutama swasta- yang sedikit demi sedikit berusaha untuk mengurangi cara antri. Bukan berarti masyarakat sudah tidak memiliki budaya tertib antri lagi, tapi apakah harreeee geenneee masih antreeee? Yang bener aja! Lihat saja, untuk membayar rekening listrik dan telepon, bank-bank swasta saling berlomba untuk melayaninya. Tidak perlu antri, dengan fasilitas perbankan terintegrasi (on-line bank), cukup dari mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM); atau pun komputer; bahkan dari telepon selular pun, segala kegiatan yang berhubungan dengan pembayaran atau pemindahan dana (transfer) dapat dilayani. Untuk membayar jalan tol, antriannya sudah berusaha dikurangi dengan diterbitkannya kartu pintar berlangganan jalan tol. Di bioskop-bioskop sistem pembelian tiket pun sudah bersifat terkomputerisasi, mengurangi antrian pembelian tiket.

Lantas kenapa sih pembagian dana BLT masih harus menggunakan metoda antri? Apakah teknologi informasi sama sekali tidak tersentuh atau tidak terpikirkan oleh para pengambil keputusan soal BLT? Tampaknya metoda antri masih merupakan jawaban yang paling mudah bagi para birokrat pemalas dan pemerintahan yang mau gampangnya saja.

Tulisan saya ini, sungguh, tidak hendak berpro-kontra terhadap pembagian BLT. Biarlah BLT dijadikan sarana “Tebar Pesona” untuk meningkatkan popularitas segelintir orang. Biarlah para politikus saling debat tentang tepat atau tidaknya pembagian dana BLT, yang pada ujungnya untuk meningkatkan popularitas partai. Kepedulian saya hanyalah pada cara pendistribusian dan pembagiannya yang semestinya bisa dibuat jauh lebih manusiawi daripada cara-cara yang sudah dilakukan saat ini.

Tentunya kita tidak dapat mengabaikan bahwa tidak seluruh birokrat kita masih bermental pelayanan antri. Salahsatu yang dapat diacungkan jempol adalah Direktorat Pajak. Terlihat usaha keras dari direktorat ini untuk memberikan layanan yang baik bagi masyarakat pembayar pajak. Komputerisasi dalam sistem pembayaran dan pengadministrasian pajak amat memudahkan bagi para wajib pajak untuk menjalankan kewajiban pajaknya. Tempat-tempat penyetoran bukti pajak bahkan tersedia hingga di lokasi-lokasi pusat perbelanjaan, sungguh suatu terobosan proaktif yang patut dijadikan contoh bagi pelaksana birokrasi lainnya.

Lantas, cara atau pun metoda apa sih yang bisa ditawakan untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi antrian dalam pembagian BLT? Jawaban pertama untuk pertanyan ini adalah pemanfaatan Teknologi Informasi (TI). Sulitkah? Saya yakin tidak. Saat ini dengan kemajuan TI yang ada di Indonesia, amatlah mudah bagi saya yang berlokasi kerja di ujung utara propinsi Kalimantan Timur, untuk berkomunikasi dengan istri yang bekerja di kawasan Kuta, Bali. Jaringan Telepon Selular dan Internet yang ada, saya kira sudah cukup memadai untuk mendukung program pembagian BLT.

Langkah selanjutnya adalah dengan mendekatkan industri perbankan kepada masyarakat. Buatlah masyarakat kita melek perbankan. Daripada sekedar meberikan kartu BLT, alangkah lebih baik apabila dibagikan sebuah buku tabungan lengkap dengan nomor rekening untuk setiap penerima BLT. Sebut saja ini sebagai program Rekening Jaminan Sosial (RJS) misalnya. Melalui rekening inilah dana BLT disalurkan kepada yang berhak menerima.

Bagaimana penerapannya ? Libatkan semua bank yang sudah ada di wilayah kecamatan hingga yang ada di desa-desa. Baik Bank pemerintah (BRI contohnya), maupun bank swasta dan bank rakyat yang ada. Manfaatkan TI dengan maksimal, jadikan RJS ini layaknya kartu ATM Bersama yang bisa ditarik antar BANK-bank yang tergabung dalam program ini. Dengan demikian, maka yang berperan aktif dalam pembagian BLT nantinya adalah pihak bank, yang notabene sudah memiliki fasilitas yang mendukung bagi pelaksanaan pembagian dana BLT.

Dengan cara ini masyarakat tidak perlu antri lagi bila hendak mengambil dananya. Tidak perlu berbondong-bondong ke tempat pengambilan dana, karena dana dapat diambil kapan saja, tak terbatas pada tanggal tertentu yang ditetapkan pemerintah. Kalau misalkan belum diperlukan, dana bisa dibiarkan dulu tersimpan di Bank sebagai tabungan.

Di sisi lain, dengan menyalurkan dana BLT melalui bank, setidaknya pemerintah dapat memberikan tambahan likuiditas dana segar yang tidak sedikit jumlahnya bagi bank-bank yang tergabung dalam program penyaluran BLT ini. Hitung-hitung ini adalah salah satu bentuk insentif dari pemerintah kepada bank-bank peserta.

Lantas kendala apa saja yang mungkin dihadapi yang dapat menghambat dilaksanakannya program ini?

Hal pertama yang wajib dibenahi adalah masalah Pendataan Penduduk. Ini adalah masalah klasik yang tampaknya belum terbenahi walau Negara kita telah 5 kali berganti kepemimpinan nasional. Banyak sekali masalah yang timbul dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara ini yang diakibatkan oleh kacaunya soal data kependudukkan. Kekacauan dalam Pelaksanaan pemilihan umum legislatif 2009, hanyalah salah satu contohnya. Dalam pembagian BLT, maka pendataan penduduk tentunya berkaitan secara kuantitatif dan kualitatif terhadap seberapa banyak penduduk yang terkategori memenuhi syarat untuk mendapatkan BLT. Apabila data kependudukan kita masih amburadul maka dikhawatirkan akan ada banyak masyarakat yang semestinya tidak terkategori sebagai penerima BLT malah menerimanya, atau bahkan sebaliknya yang berhak menerima BLT justru tidak mendapatkannya. Sensus Penduduk 2010 nanti, semoga saja bisa menjadi titik awal pendataan penduduk yang tertata rapih dan akurat.

Hal kedua yang perlu pembenahan adalah ketersediaan sarana dan prasarana pendukung. Listrik dan jaringan komunikasi meski telah tersedia di hampir seluruh pelosok negeri, namun pada beberapa wilayah bisa dibilang kurang memadai. Apabila bisa ditingkatkan, tentunya akan lebih maksimal dalam mendukung program pembagian BLT.

Hal ketiga yang tidak kalah penting adalah mengurangi angka masyarakat penyandang buta huruf. Melek perbankan, sebagai bagian dari program Rekening Jaminan Sosial, mau tidak mau mensyarakatkan agar masyarakat penerima dapat membaca dan menulis guna berinteraksi dengan sistem perbankan.

Dari ke tiga hal di atas, tampaklah bahwa sesungguhnya masih banyak Pekerjaan Rumah yang perlu diselesaikan terlebih dahulu oleh pemerintah, agar penyaluran dana BLT dapat dilaksanakan dengan cara-cara yang lebih manusiawi, ketimbang tergesa-gesa berkutat pada metode cepat jadi ( instant ) untuk mengatasi kemiskinan, seperti yang dilakukan pemerintah dengan program ‘antri’ BLT-nya.

Jumat, 24 April 2009

ADA PELANGI

Pelangi pelangi … Alangkah indahmu..
Merah, Kuning, Hijau .. Di langit ... *

Lagu anak-anak di atas tentu lah teramat sangat kita hapal syairnya, dan memang langit sehabis di guyur hujan yang berhiaskan pelangi, merupakan pemandangan yang sangat indah untuk dilihat.

Namun apakah pelangi juga tetap indah apabila dikaitkan dengan konteks kebernegaraan yang berlangsung di negara kita tercinta ini?

Kabinet Pelangi, demikianlah orang sering menjuluki kecenderungan warna kabinet di negara kita, yang sudah kita alami dalam beberapa kali pergantian kepemimpinan nasional, semenjak masa orde reformasi.

Sekilas memang tampak indah, sekilas menyenangkan. Seorang pemimpin nasional dari partai tertentu memberikan kesempatan bagi tokoh-tokoh dari partai lain, dengan istilah mendukung, atau pun berkoalisi, untuk sama-sama mencicipi kue kekuasaan; bagi-bagi jabatan dengan dalih-dalih kebersamaan dan demi kepentingan nasional yang lebih luas.

Sungguh-sungguh kah dalih tersebut?

Memang, kabinet dengan banyak warna seperti pelangi, cenderung memberikan dukungan kuat bagi penguasa, tidak banyak rongrongan membuat pemerintahan yang terbentuk memiliki kestabilan dalam menjalankan berbagai kebijakannya.

Lalu bila saja semua partai menjadi pendukung bagi pemerintahan yang sedang berkuasa, lantas siapa yang akan berfungsi sebagai oposisi? Tanpa partai oposisi, mudah ditebak, parlemen yang berfungsi sebagai kontrol bagi pemerintahan akan sangat dimungkinkan untuk bekerja dengan setengah hati. Lah wong yang harus dikontrol dan diawasi adalah konco-konco sendiri.

Berkoalisi memang bukanlah dosa dalam berpolitik. Demi kepentingan dan ambisi, manufer-manufer apa pun syah-syah saja dipraktekkan. Apalagi dalam sistem demokrasi kita yang mempersilakan banyak partai berkompetisi, membuat sangat jarang ada partai yang bisa menang mutlak dalam pemilihan umum. Kolaborasi menjadi suatu jalan bagi partai-partai untuk mengikat kekuatan, guna menuju kursi pemerintahan.

Namun janganlah dilupakan, bahwa esensi dalam berpolitik bukan hanya memberikan peran bagi si pemenang. Politik juga memberikan tempat terhormat bagi yang kalah untuk beroposisi. Dengan oposisi, pemerintah atau pun partai yang tengah berkuasa akan memiliki counter-partner yang sepadan, sehingga segala produk politik dan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan benar-benar memiliki kualitas tinggi, karena telah melewati suatu saringan dan ujian yang ketat.

Saat ini dengan sangat sedih kita harus menerima kenyataan bahwa negeri ini belum sampai memasuki tahap kedewasaan berpolitik yang cukup. Banyak partai dan kader-kadernya belum dapat menyikapi kekalahan dalam pemilihan umum sebagai suatu kehormatan. Belum terlihat ada partai yang dengan kesadaran dan penuh percaya diri menyatakan untuk menjadi oposisi bagi pemerintahan . Kalau pun ada yang menjadi oposisi, saya cenderung menduga itu hanya karena terpaksa, dikarenakan tidak mendapat bagian dari si penguasa.

Semoga saja dugaan saya itu salah. Biar bagaimana pun, bila ada partai yang mau menjadikan dirinya sebagai pihak oposisi ( terpaksa atau tidak ) tetaplah harus kita sampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih.

Mencermati hasil pemilu legislatif 2009 yang lalu, tampaknya kecenderungan berpelangi akan tetap mewarnai politik negeri kita ini. Partai-partai dengan persentase perolehan suara kecil, terlihat sibuk melobi partai-partai berpersentase perolehan suara besar. Sibuk kasak-kusuk, dagang sapi, dengan harapan dapat ikut mencicipi empuknya kursi kekuasaan. Persis anak-anak dalam lomba tujuhbelasan, di mana yang tidak menang lomba pun tetap diberi hadiah hiburan atas partisipasinya.

Padahal seperti pelangi di langit biru yang segera memudar seiring teriknya sinar matahari, politik pelangi kita pun demikian adanya. Tidak lah pernah langgeng, spektrumnya cenderung cepat memudar dan berubah warna tergantung kepentingan-kepentingan para pihak yang melatarinya. Kalau dulu berwarna kuning-ungu-biru-hijau, sekarang mungkin telah merah-kuning-jingga-hijau-biru, bahkan mungkin merah kekuningan-hijau kemerahan-jingga agak biru–ungu seperti hijau, serba tidak jelas.

Suka atau tidak suka, pemandangan politik macam itulah yang masih akan berlangsung. Yang dulu adalah kawan, sekarang bukan lagi teman. Yang dulunya berseberangan, kini bercengkrama, saling berangkulan, berjabatan tangan, dan tanpa malu berfoto bergandengan tangan di hadapan wartawan, meski pun jelas tertangkap : ... Ada yang lain .... di senyummu ...** dan juga jelas terlihat : ... Ada pelangi ... di bola matamu.....**.


Catatan :
1. * : Lagu, berjudul “Pelangi" ciptaan Abdullah Totong Mahmud ( A.T. Mahmud )
2. ** : Penggalan lagu “ Pelangi Di Matamu”, ciptaan Azis, personel grup band JAMRUD, dinyanyikan dan dipopulerkan oleh grup band JAMRUD.