Jumat, 24 April 2009

ADA PELANGI

Pelangi pelangi … Alangkah indahmu..
Merah, Kuning, Hijau .. Di langit ... *

Lagu anak-anak di atas tentu lah teramat sangat kita hapal syairnya, dan memang langit sehabis di guyur hujan yang berhiaskan pelangi, merupakan pemandangan yang sangat indah untuk dilihat.

Namun apakah pelangi juga tetap indah apabila dikaitkan dengan konteks kebernegaraan yang berlangsung di negara kita tercinta ini?

Kabinet Pelangi, demikianlah orang sering menjuluki kecenderungan warna kabinet di negara kita, yang sudah kita alami dalam beberapa kali pergantian kepemimpinan nasional, semenjak masa orde reformasi.

Sekilas memang tampak indah, sekilas menyenangkan. Seorang pemimpin nasional dari partai tertentu memberikan kesempatan bagi tokoh-tokoh dari partai lain, dengan istilah mendukung, atau pun berkoalisi, untuk sama-sama mencicipi kue kekuasaan; bagi-bagi jabatan dengan dalih-dalih kebersamaan dan demi kepentingan nasional yang lebih luas.

Sungguh-sungguh kah dalih tersebut?

Memang, kabinet dengan banyak warna seperti pelangi, cenderung memberikan dukungan kuat bagi penguasa, tidak banyak rongrongan membuat pemerintahan yang terbentuk memiliki kestabilan dalam menjalankan berbagai kebijakannya.

Lalu bila saja semua partai menjadi pendukung bagi pemerintahan yang sedang berkuasa, lantas siapa yang akan berfungsi sebagai oposisi? Tanpa partai oposisi, mudah ditebak, parlemen yang berfungsi sebagai kontrol bagi pemerintahan akan sangat dimungkinkan untuk bekerja dengan setengah hati. Lah wong yang harus dikontrol dan diawasi adalah konco-konco sendiri.

Berkoalisi memang bukanlah dosa dalam berpolitik. Demi kepentingan dan ambisi, manufer-manufer apa pun syah-syah saja dipraktekkan. Apalagi dalam sistem demokrasi kita yang mempersilakan banyak partai berkompetisi, membuat sangat jarang ada partai yang bisa menang mutlak dalam pemilihan umum. Kolaborasi menjadi suatu jalan bagi partai-partai untuk mengikat kekuatan, guna menuju kursi pemerintahan.

Namun janganlah dilupakan, bahwa esensi dalam berpolitik bukan hanya memberikan peran bagi si pemenang. Politik juga memberikan tempat terhormat bagi yang kalah untuk beroposisi. Dengan oposisi, pemerintah atau pun partai yang tengah berkuasa akan memiliki counter-partner yang sepadan, sehingga segala produk politik dan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan benar-benar memiliki kualitas tinggi, karena telah melewati suatu saringan dan ujian yang ketat.

Saat ini dengan sangat sedih kita harus menerima kenyataan bahwa negeri ini belum sampai memasuki tahap kedewasaan berpolitik yang cukup. Banyak partai dan kader-kadernya belum dapat menyikapi kekalahan dalam pemilihan umum sebagai suatu kehormatan. Belum terlihat ada partai yang dengan kesadaran dan penuh percaya diri menyatakan untuk menjadi oposisi bagi pemerintahan . Kalau pun ada yang menjadi oposisi, saya cenderung menduga itu hanya karena terpaksa, dikarenakan tidak mendapat bagian dari si penguasa.

Semoga saja dugaan saya itu salah. Biar bagaimana pun, bila ada partai yang mau menjadikan dirinya sebagai pihak oposisi ( terpaksa atau tidak ) tetaplah harus kita sampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih.

Mencermati hasil pemilu legislatif 2009 yang lalu, tampaknya kecenderungan berpelangi akan tetap mewarnai politik negeri kita ini. Partai-partai dengan persentase perolehan suara kecil, terlihat sibuk melobi partai-partai berpersentase perolehan suara besar. Sibuk kasak-kusuk, dagang sapi, dengan harapan dapat ikut mencicipi empuknya kursi kekuasaan. Persis anak-anak dalam lomba tujuhbelasan, di mana yang tidak menang lomba pun tetap diberi hadiah hiburan atas partisipasinya.

Padahal seperti pelangi di langit biru yang segera memudar seiring teriknya sinar matahari, politik pelangi kita pun demikian adanya. Tidak lah pernah langgeng, spektrumnya cenderung cepat memudar dan berubah warna tergantung kepentingan-kepentingan para pihak yang melatarinya. Kalau dulu berwarna kuning-ungu-biru-hijau, sekarang mungkin telah merah-kuning-jingga-hijau-biru, bahkan mungkin merah kekuningan-hijau kemerahan-jingga agak biru–ungu seperti hijau, serba tidak jelas.

Suka atau tidak suka, pemandangan politik macam itulah yang masih akan berlangsung. Yang dulu adalah kawan, sekarang bukan lagi teman. Yang dulunya berseberangan, kini bercengkrama, saling berangkulan, berjabatan tangan, dan tanpa malu berfoto bergandengan tangan di hadapan wartawan, meski pun jelas tertangkap : ... Ada yang lain .... di senyummu ...** dan juga jelas terlihat : ... Ada pelangi ... di bola matamu.....**.


Catatan :
1. * : Lagu, berjudul “Pelangi" ciptaan Abdullah Totong Mahmud ( A.T. Mahmud )
2. ** : Penggalan lagu “ Pelangi Di Matamu”, ciptaan Azis, personel grup band JAMRUD, dinyanyikan dan dipopulerkan oleh grup band JAMRUD.



Rabu, 11 Februari 2009

RUMAH TERAPUNG

Menyaksikan berita di televisi tentang rumah-rumah di Bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta, yang terendam banjir pada musim penghujan medio Januari 2009 ini, membuat saya teringat pada masa-masa saya bertugas di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.
Pulau Kalimantan memiliki banyak sekali sungai berukuran besar. salahsatunya adalah Sungai Barito yang meliuk-liuk sepanjang Kalimantan Selatan hingga ke arah hulunya membelah wilayah Kalimantan Tengah. Mungkin Karena masyarakat di sana sudah sangat akrab dengan Sungai-sungai berukuran besar, dan hidupnya tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan perairan sungai, akhirnya mereka menciptakan teknik membangun rumah yang bersinergi dengan lingkungan sungai yakni: rumah di permukaan sungai. Perlu digarisbawahi pada kata-kata “di permukaan sungai”, karena mereka memang tidak membuat rumah panggung di atas sungai, namun lebih dari itu, rumah unik ini betul-betul dapat terapung di permukaan air, yang oleh penduduk setempat disebut sebagai LANTING.


Foto 1. : Rumah Terapung AKA Lanting


Jangan bayangkan bahwa mereka menetap di dalam sebuah perahu berukuran besar. Lanting layaknya menyerupai rumah biasa juga, namun satu hal yang mem-bedakannya dan membuatnya dapat mengapung adalah lanting ini didirikan di atas pondasi berupa beberapa batang kayu gelondong besar yang disusun berjajar menyerupai rakit, dan disatukan satu sama lainnya dengan balok-balok kayu panjang yang sekaligus berfungsi menjadi kuda-kuda (kedudukan) bagi lantai serta rangka rumah.


Tentunya tidak semua jenis kayu dapat dijadikan pondasi untuk rumah apung ini. Jenis-jenis kayu tertentu akan tenggelam dalam air, maka hanya jenis yang dapat mengambang di air saja lah yang layak dapat dijadikan sebagai pondasi. Selain itu, tentu saja si kayu pondasi haruslah memilik daya tahan yang kuat menghadapi proses pelapukan yang disebabkan oleh air.

Apakah rumah lanting ini tidak akan hanyut terbawa arus sungai? ternyata tidak tuh. Caranya?? Ya diikatkan saja ke pohon atau ke tiang penambat di tepi sungai. Jadi meski mengapung di permukaan sungai, rupanya si Lanting ini tetap saja masih harus memiliki “kontak” dengan daratan yah.



Foto 2 : Halaman Belakang Lanting

Selain diikat, lanting juga terhubung ke daratan dengan semacam jembatan yang terbuat yang terdiri atas dua atau tiga buah batang kayu di mana salah satunya menyentuh tepi daratan dan lainya terikat pada pondasi rumah, membentuk titian yang panjang-pendeknya dapat diatur disesuaikan dengan kondisi air sungai. Di saat muka air sungai naik di musim penghujan, maka posisi lanting akan ditarik mendekati tepi badan sungai, sedangkan saat muka sungai surut di musim kering, tali pengikat harus diulurkan menjauh dari tepian agar lanting tetap berada di permukaan air dan tidak kandas. Dalam kondisi kemarau panjang dan hampir seluruh bagian sungai mengering, maka Lanting dapat diulur untuk menjangkau bagian tengah badan sungai yang biasanya paling landai sehingga lanting bisa mendapatkan posisi ‘mendarat’ yang aman.

Foto 3 : Perkampungan Terapung

Karena tidak berancang-bangun seperti perahu, maka rumah lanting ini hanya difungsikan untuk menetap pada satu tempat saja. Namun manakala diperlukan sebenarnya lanting dapat dengan mudah dipindah tempatkan, hanya saja untuk itu diperlukan bantuan satu buah perahu bermesin yang cukup besar untuk menghelanya, ditambah satu atau dua perahu kecil bermesin untuk mengendalikan arah.


Foto 4. : Rumah Lanting dan Rumah daratan
Kesan saya saat tinggal di rumah lanting tidak ubahnya seperti tinggal di rumah daratan saja, hanya saja pada awalnya dulu perlu sedikit penyesuaian, terutama saat rumah bergoyang-goyang terhempas gelombang dari perahu-perahu yang lewat. Rasanya seperti ada gempa kecil yang menimpa rumah, namun dalam beberapa hari saja perasaan itu sudah dapat dihilangkan.

Penyesuaian lain adalah melatih ketrampilan untuk meniti jembatan kecil yang menghubungkan rumah lanting dengan daratan, bila tidak berhati-hati bisa saja tergelincir dan tercebur ke sungai, basahnya sih tidak seberapa, tapi malunya itu loh.... Maklum lah, meski tinggal di sungai, namun sebagian besar kegiatan tetap dilaksanakan di daratan, sehingga acara menyeberangi titian lanting menjadi hal yang rutin saya lakukan. Dalam beberapa hari saja saya sudah cukup piawai, bahkan kawan-kawan di sana memberikan pujian pada ketrampilan saya melangkah di titian ini. Namun sesungguhnya adaptasi terbesar bukanlah dalam hal melewati titian atau pun membiasakan diri terhadap goyangan gelombang. Hal tersulit justru adalah membiasakan diri untuk mandi dan menggunakan MCK di sungai seperti yang masyarakat sana biasa lakukan, termasuk tentu saja menggosok gigi.

Foto 5. : Kegiatan harian di lanting
Konsep Lanting atau rumah terapung ini dapat diterapkan tidak hanya untuk rumah tempat tinggal biasa saja. Konsep ini juga dapat dimanfaatkan untuk mendirikan bangunan yang lebih besar seperti Rumah makan, dan juga toko terapung. Maklum saja, jalur sungai masih menjadi urat nadi perekonomian dan sarana perhubungan utama di daerah-daerah pedalaman di Kalimantan. Tentunya untuk bangunan yang lebih besar, diperlukan kayu gelondong yang lebih panjang serta berdiameter lebih besar sebagai pondasinya. Meskipun sudah agak sulit, di sana kayu-kayu gelondongan berukuran besar masih bisa didapati.

Yang lebih menarik, apabila kita kemalaman dalam perjalanan menyusuri sungai Barito, dan membutuhkan tempat untuk sekadar beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan, tidak perlu khawatir, kita bisa juga loh menginap di “hotel” terapung. Bolehlah tempat menginap ini saya katakan sebagai “hotel”, karena umumnya tersedia cukup banyak kamar, bahkan diantaranya ada yang terdiri dari dua lantai. Tarif menginap di hotel terapung ini tergolong sangatlah murah. Tahun 2008 lalu tarif menginap di sana masih berkisar antara Rp. 15.000,- sampai Rp. 30.000,- per malamnya. Meski biasanya sangat sederhana dan tidak menyediakan sarapan pagi, namun di semua “hotel” terapung tersebut selalu tersedia fasilitas kamar mandi dan fasilitas berenang di halamannya hehehehe .....


Foto 6. : Hotel Terapung
Bingung menghadapi banjir seperti saat-saat musim penghujan medio Januari 2009 ini?, mungkin saja apa yang telah diciptakan oleh saudara-saudara kita yang tinggal di sepanjang tepian Sungai Barito ini, dapat menjadi solusi untuk menghadapi Banjir di Jakarta.

Minggu, 18 Januari 2009

YANG UNIK DAN LANGKA DARI HUTAN KALTIM

Masuk ke hutan belantara di pedalaman Kaltim ternyata memberi kesempatan bagi saya untuk dapat melihat banyak sekali flora dan fauna yang sebelumnya belum pernah saya kenali baik secara langsung maupun dari media cetak; buku atau pun televisi.

Namun dari sekian banyak flora dan fauna yang saya jumpai, saya ingin menampilkan 3 jenis saja di antaranya yang menurut saya paling unik dan mungkin juga termasuk ke dalam spesies langka. Ketiganya saya temukan di daerah hutan pedalaman di Kecamatan Kelay Kabupaten Berau, saya menganggapnya langka karena setelah menanyakan pada beberapa penduduk setempat yang sudah sering masuk ke hutan, mereka pun baru kali itu menyaksikannya dan mereka tidak memiliki nama lokal bagi tiga spesies ini.


1. Serangga unik.


pertama adalah sejenis serangga yang sangat unik, dengan ciri-ciri : memiliki panjang tubuh dari kepala sampai ujung bagian belakangnya lebih panjang daripada jari telunjuk saya; warna tubuh menyerupai warna dedaunan kering; ada 2 pasang sayap di bagian punggungnya yang saya yakin tidak sanggup membawanya terbang, karena terlalu kecil untuk tubuhnya yang bongsor. Uniknya walaupun memiliki kaki belakang yang besar dan berduri, serangga ini berpindah tempat dengan cara berjalan, bukannya melompat seperti jangkrik atau belalang.



Foto 1. : Perhatikan sayapnya di bagian punggung.

Merasa penassaran, saya sempatkan diri mencari informasi melalui searching di internet, dan hingga saat ini baru mendapatkan satu gambar serangga yang serupa dengan serangga yang saya temukan ini, perbedaannya adalah foto serangga yang saya dapat melalui internet itu memiliki warna badan yang hijau terang serupa warna dedaunan yang segar.


Foto 2 : Heteropteyx dilatata ( Jason Cross, www.flicker.com )

Foto di atas adalah milik Jason Cross, yang saya unduh dari flicker.com. Dalam laman tersebut juga dijelaskan bahwa serangga dalam foto ini adalah species Heteropteyx dilatata.

Saya sendiri belum yakin apakah foto serangga di atas merupakan spesies yang sama dengan serangga yang saya dapatkan.



2. Tumbuhan tak berbatang dan daun.


Berikutnya saya juga mendapatkan satu tumbuhan yang sangat unik, karena tumbuhan ini tumbuh langsung di atas permukaan tanah, namun tidak memiliki batang serta daun. Berbentuk seperti bunga berwarna kelabu, dengan lima kelopak yang tebal dan keras, mengelilingi semacam kantong tertutup berbentuk separo bola, diameter 5,5 cm dengan tinggi sekitar 1,5 cm.




Foto 3. : Tampak dari atas, dan dari bawah


Foto 4. : Tampak dari samping



Sayangnya setelah mencoba mendapatkan informasi melalui internet, saya belum mendapatkan keterangan apapun atau juga gambar yang serupa dengan tumbuhan yang saya dapatkan ini.

3. Siput bercangkang tembus cahaya.

Kalau biasanya kita jijik kalau melihat seekor siput, maka siput yang saya dapatkan ini punya penampilan unik dan lucu. Tubuh lunaknya berwarna kemerahan dengan dua garis hitam membujur dari pangkal kepala sampai sampai ekornya. Namun yang lebih menarik adalah hewan ini memiliki cangkang atau “rumah” berbentuk spiral yang tembus cahaya, sehingga kita bisa melihat tubuh lunaknya yang bersembunyi di dalam cangkang.

Foto 5 : Siput tembus cahaya / Transparent snail




Hewan lucu nan cantik ini saya dapatkan saat saya sedang beristirahat melepas lelah pada sebuah bukit batugamping. Nah kalau diperkenankan, ijinkan saya memberi nama hewan ini dengan sebutan Siput tembus cahaya atau Transparent Snail, sesuai dengan cangkangnya yang seperti rumah kaca tembus pandang.



Saya amat berterimakasih apabila ada rekan-rekan pembaca yang bisa membantu untuk mendapatkan nama latin atau pun nama lokal bagi hewan dan tumbuhan yang saya tampilkan dalam tulisan ini, terutama saya juga memerlukan info apakah species-species ini termasuk ke dalam jenis yang langka atau kah tidak.

Sesungguhnya seringkali terbersit perasaan dilematis dalam hati saya, dikarenakan kegiatan survey yang saya laksanakan pada akhirnya akan berujung pada kegiatan pembukaan areal hutan, yang nantinya tentu akan mengurangi sebahagian habitat alamiah bagi banyak jenis hewan dan tumbuhan.

Semoga saja tulisan ini dapat menjadi dokumentasi, atau paling tidak bisa menceritakan bahwa sekurangnya ada 3 jenis spesies yang unik, yang berada di pedalaman hutan Kalimantan kita, dan terbersit harapan saya bahwa tulisan ini dapat menggerakan para pemerhati; pencinta lingkungan atau pun para ahli di bidang flora & fauna; untuk meneliti dan mendokumentasikannya melaui metoda-metoda yang lebih ilmiah dengan harapan bahwa nantinya dapat dicari solusi bagi pelestariannya.

Jumat, 28 November 2008

Jumpa Orang Utan di Habitat Asli

Senang sekali rasanya bisa melihat orang utan langsung di habitatnya di alam liar, ada sensasi berbeda dibandingkan kalau kita menyaksikan orang utan atau hewan liar lainnya yang berada di Kebun Binatang atau melalui televisi..



Ceritanya terjadi pada awal bulan september 2008 yang lalu, saya dan rombongan akan berangkat survey ke daerah Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Untuk menuju ke sana kami melalui rute jalan Berau – Wahau yang merupakan bagian dari poros jalan lintas Kaltim. Saat melintasi suatu kawasan hutan di daerah sekitar Muara Lesan, rombongan kami berpapasan dengan seekor orang utan yang sedang asik makan sambil duduk di sebatang pohon.

Seketika kami langsung menghentikan kendaraan, dan berlompatan turun untuk melihat si orang utan dari jarak yang lebih dekat. Sungguh saya terpesona melihat sosok besar berbulu merah gelap itu, dan saking terpesonanya sampai-sampai terlupakan kamera yang selalu tergantung di pinggang. Saat sadar untuk memotret, si orang utan ternyata sudah menyadari kedatangan kami, dan dengan tenangnya ia segera meninggalkan posisinya semula, masuk menuju ke dalam hutan.


Beruntung salah seorang anggota rombongan kami masih sempat mengambil gambar si orang utan tersebut, sehingga saya masih memiliki kenang-kenangan atas satu perjumpaan yang amat langka ini. Yah, berjumpa dengan orang utan di habitat aslinya memang tidak semua orang dapat mengalami. Sebelumnya pun, walaupun sudah bertugas selama satu tahun di Kalimantan, keberadaan orang utan hanya saya dengar melaui cerita-cerita penduduk setempat saja
.



Sebenarnya ada rasa sedih juga ketika si orang utan menghindari pertemuan dengan rombongan kami, mungkin saja ia sering berhadapan dengan rombongan pemburu di hutan yang sering mengusik atau pun mengacamnya atau bahkan ia sering menyaksikan anggota kelompoknya yang terbunuh, dan ia mengira rombongan kami termasuk rombongan pemburu hewan liar. Namun di sisi lain saya juga gembira karena dengan demikian berarti ia masih memiliki naluri tajam untuk menyelamatkan diri.

Apabila ada pembaca yang serius ingin melakukan penelitian tentang orang hutan di daerah ini, silakan menghubungi saya untuk mendapatkan koordinat lokasinya, dan apabila ada yang ingin memanfaatkan foto orang utan yang ada dalam tulisan ini, saya dapat menghubungkan dengan rekan saya Ibrahim, sebagai pemilik foto tersebut.



Foto : - Pribadi, dan foto Orang Utan Dibuat oleh kawan saya Ibrahim


Kamis, 16 Oktober 2008

PULAU DERAWAN

Berangkat dari kota Balikpapan, naiklah pesawat udara jurusan kota Tanjung Redeb kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sesampai disana, tujulah pelabuhan Tanjung Batu, kurang lebih duasetengah jam berkendaraan. Dan setibanya di pelabuhan Tanjung Batu, pandanglah ke arah antara Timur dan Tenggara maka di kejauhan akan tampak sebuah pulau yang dikenal sebagai maskot Pariwisata di Kalimantan timur, itulah Pulau Derawan.


Foto 1 : Pulau Derawan



Selanjutnya untuk sampai menjejakkan kaki ke sana, dari pelabuhan Tanjung Batu, banyak tersedia speed boat ukuran kecil berkapasitas maximum 6 orang penumpang untuk disewa menyeberang.



Foto 2. : Pantai Pulau Derawan


Pulau Derawan memang memiliki segala hal yang disyaratkan untuk sebuah lokasi tujuan wisata pulau. Selain pemandangan pantai yang indah, Perairan pantainya amatlah jernih, sehingga Terumbu karang di sekeliling pulau ini dapat dengan jelas disaksikan dari permukaan laut. Lokasi pulau ini pun terlindung oleh beberapa pulau kecil lainnya, seperti Pulau Panjang, Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki menjadikan ombak dan gelombang di Pulau Derawan amatlah tenang, sehingga amat ideal untuk kegiatan menyelam, olahraga berlayar atau pun hanya sekedar berenang-renang di tepian pantai. Hamparan pasir di pulau ini berwarna putih, yang mengingatkan kita pada pemandangan pasir di Pantai Kuta Bali.

Foto 3. : Terumbu karang tampak dari permukaan



Pariwisata Berbasis Ekonomi Masyarakat.

Fasilitas akomodasi bagi wisatawan di pulau ini juga cukup banyak tersedia, selain beberapa penginapan dan resort yang dikelola oleh swasta, masyarakat di sini pun terlibat aktif dalam mengelola sarana penunjang pariwisata. Rumah inap (Homestay) yang dimiliki oleh penduduk dapat menjadi alternative akomodasi murah bagi pengunjung. Penduduk setempat juga banyak yang mengelola warung dan rumah makan dengan harga relatif murah, serta ada juga yang membuka toko souvenir.



Foto 4. : Rumah Penduduk untuk penginapan



Pemerintah Kabupaten Berau tampaknya juga amat serius membantu masyarakat dalam mengembangkan kegiatan penunjang pariwisata di Pulau ini. Promosi wisata ke daerah ini cukup gencar dibuat. Dalam PON XVII, 2008 yang lalu pulau Derawan menjadi salahsatu lokasi penyelenggara kegiatan yakni untuk cabang olah raga Volley Pantai; Menyelam; serta cabang olah raga Layar. Untuk itu Pemda memberikan bantuan kepada masyarakat agar bisa merenovasi rumahnya sehingga layak untuk dijadikan penginapan bagi para atlet yang bertanding, dan setelah event PON usai, maka dapat digunakan sebagai rumah inap yang cukup nyaman bagi wisatawan.



Foto 5. : Eks Fasilitas Bola Voley Pantai



Pelestarian Penyu

Disamping menjadi tujuan bagi wisatawan untuk berlibur, Pulau Derawan ternyata juga menjadi tujuan bagi satwa langka Penyu Hijau untuk berkembang biak dan bertelur.

Kehadiran penyu memang menambah daya tarik pulau ini. Sambil berenang di pantai kita bisa menyaksikan beberapa penyu besar ikut berenang-renang di bawah permukaan. Apabila beruntung, kita pun bisa berfoto bersama penyu-penyu tersebut.

Sebagian pesisir pantai Pulau Derawan memang dijadikan tempat pelestarian dan penelitian Penyu. Keberadaan penyu-penyu ini diliindungi oleh pemerintah, dan pengawasannya dibantu oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat, yang peduli terhadap kelestarian hewan-hewan langka. Sebagai informasi, seluruh spesies Penyu ( semuanya ada 6 spesies ) adalah termasuk dalam Appendix I CITES, yang artinya terlarang bagi kita untuk melakukan segala kegiatan penangkapan dan perdagangan spesies ini beserta seluruh produk turunannya ( daging, telur, awetan kerapas dan lain-lainnya ).


Foto 6. : Pulau Derawan menjelang senja



Di malam hari, apabila belum mengantuk karena lelah berenang seharian, mintalah ijin kepada petugas pengawas penyu untuk dapat turut serta menyaksikan Penyu bertelur. Memang jumlah penyu yang bertelur di Pulau Derawan tidaklah sekerap di pulau tetangganya, yakni Pulau Sangalaki, namun tiap malam ada saja 1-2 ekor penyu yang bertelur, bahkan bila sedang beruntung, dapat disaksikan hingga 10 ekor penyu yang bertelur dalam satu malam.

Telur-telur yang baru dihasilkan oleh induk penyu akan langsung dipindahkan oleh petugas ke dalam lokasi penetasan khusus, guna melindunginya dari gangguan hewan-hewan predator maupun cuaca alam yang terkadang tidak mendukung. Lokasi penetasan ini juga untuk menghindari telur dari tangan-tangan tak bertanggungjawab yang hendak mengambil untuk dikonsumsi maupun memperdagangkannya.

Penyu adalah hewan yang amat sensitif kala hendak bertelur, sedikit saja ada gangguan di lokasi yang akan dijadikannya tempat bertelur, maka ia akan menunda naik ke daratan, menunggu sampai saatnya yang paling tepat.

Namun kita jangan dulu kecewa apabila tidak berkesempatan menyaksikan penyu bertelur, karena selain itu , setiap malam di Pulau Derawan, kita juga bisa melihat acara bayi-bayi penyu yang baru menetas dari telurnya.


Foto 7 : Tukik


Bayi penyu ( atau disebut juga tukik ), yang baru lahir di penangkaran akan didata terlebih dahulu oleh petugas sebelum dilepas ke laut. Para petugas akan bersenang hati apabila kita bersedia ikut membantu melepaskan tukik-tukik ke perairan lepas.

Menyaksikan bayi penyu yang baru saja menetas juga bisa menjadi pengalaman yang amat menakjubkan. Memegang tukik-tukik yang baru lahir; lalu membantu melepasnya menuju perairan lepas; melihatnya berenang untuk kali pertama di kegelapan malam, sungguh suatu pengalaman yang amat mengharukan. Apalagi mengingat bahwa dari lebih seratusan tukik yang lahir, hanya beberapa ekor saja yang akan selamat hingga usia dewasa, yang nantinya akan kembali ke tempat dimana ia dilahirkan untuk berkembang biak.


Bagi anak-anak, acara melepas bayi penyu ini tentunya bisa dijadikan pelajaran berharga guna membangkitkan rasa cinta kepada satwa dan pelestarian alam.

Sayangnya, keberadaan resort dan penginapan di Pulau Derawan dapat menjadi gangguan yang serius bagi upaya pelepasan tukik-tukik ke perairan. Dalam satu kesempatan melepaskan tukik, pada awal Oktober 2008 lalu, beberapa kali saya dapati tukik yang sudah dilepas ternyata naik lagi ke arah daratan, sehingga harus dibantu mengembalikannya kembali ke perairan. Rupanya sinar yang dipancarkan lampu-lampu penginapan dapat mengacaukan navigasi bayi penyu dalam usahanya mencari jalan ke lautan, yah secara naluri tukik-tukik akan selalu mencari tempat-tempat yang terang.


Foto 8. : Melepas Tukik di malam hari


Demikian sekilas cerita saya tentang Pulau Derawan, yang mungkin dapat dijadikan gambaran bahwa kiranya tidaklah sulit untuk mensinergikan pengelolaan suatu kawasan, agar dapat menjadi tujuan pariwisata dengan memperhatikan perekonomian penduduknya, sekaligus menjaga kelestarian alam.